Kritik Bukan Ancaman, Aksi Kamisan Meulaboh Desak Ryandhi-Zaeland Dibebaskan

- Penulis

Jumat, 11 September 2026 - 01:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Massa Aksi Kamisan Meulaboh-Aceh Barat menggelar aksi di Meulaboh, Kamis (10/9/2026), menyerukan pembebasan Ryandhi dan Zaeland serta seluruh tahanan politik.

Massa Aksi Kamisan Meulaboh-Aceh Barat menggelar aksi di Meulaboh, Kamis (10/9/2026), menyerukan pembebasan Ryandhi dan Zaeland serta seluruh tahanan politik.

  • ACEH BARAT | LSA-NEWS.COM – Aksi Kamisan Meulaboh-Aceh Barat kembali digelar di Meulaboh, Aceh Barat, Kamis (10/9/2026). Massa aksi menyuarakan pembebasan dua aktivis, Ryandhi alias Ube dan Zaeland alias Jelan, serta seluruh tahanan politik.

Aksi tersebut digelar di tengah sorotan terhadap kondisi demokrasi, menyempitnya ruang sipil, serta belum tuntasnya penyelesaian sejumlah kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Dalam aksinya, massa menilai penangkapan terhadap Ryandhi dan Zaeland menjadi salah satu bentuk persoalan dalam kebebasan berekspresi dan penyampaian kritik terhadap pemerintah.

Menurut massa aksi, kritik tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Kritik dinilai merupakan bagian dari hak masyarakat untuk menyampaikan keluhan dan aspirasi kepada negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kritik bukanlah ancaman, tapi bentuk dari masyarakat Indonesia yang menyampaikan keluhannya kepada negara,” demikian seruan massa dalam aksi tersebut.

Massa Aksi Kamisan Meulaboh-Aceh Barat juga menyampaikan lima tuntutan, yakni:

1. Membebaskan Ryandhi alias Ube dan Zaeland alias Jelan.

2. Segera membebaskan seluruh tahanan politik.

3. Negara menjamin hak asasi manusia (HAM).

4. Segera membentuk peradilan HAM ad hoc untuk mengusut pelaku pelanggaran HAM berat hingga ke akar-akarnya.

5. Menarik dan mengembalikan TNI ke barak.

Selain itu, massa mendesak pemerintah segera membentuk peradilan HAM ad hoc untuk mengungkap dan mengadili dugaan pelanggaran HAM berat yang terjadi, baik pada masa kini maupun masa lalu.

Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Meulaboh-Aceh Barat, Rahmad, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk perlawanan masyarakat sipil terhadap ketimpangan dan ketidakadilan.

Rahmad juga meminta pemerintah menjamin kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat serta memastikan penghormatan terhadap HAM.

“Kami hadir bukan untuk memusuhi institusi negara atau menciptakan konflik. Kami hadir sebagai simbol bahwa selama keadilan belum ditegakkan, selama kebijakan negara belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat, maka Aksi Kamisan Meulaboh-Aceh Barat akan terus berdiri sebagai suara nurani,” ujar Rahmad.

Baca Juga:  ‎Mahasiswa PBL II Universitas Teuku Umar Meulaboh Gelar Skrining Hipertensi dan Edukasi Pemanfaatan TOGA di Aceh Selatan

Dia menegaskan aksi tersebut akan menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan menyuarakan aspirasi.

“Suara nurani yang mengingatkan bahwa kedaulatan rakyat lebih tinggi dari segalanya,” sambungnya.||Syahrial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Camat Johan Pahlawan Tinjau Banjir Rob yang Rendam Dua Desa
Berita ini 132 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 21:08 WIB

Camat Johan Pahlawan Tinjau Banjir Rob yang Rendam Dua Desa

Jumat, 11 September 2026 - 01:47 WIB

Kritik Bukan Ancaman, Aksi Kamisan Meulaboh Desak Ryandhi-Zaeland Dibebaskan

Berita Terbaru