Mengungkap Makna Kenduri Bungoeng Kaye, Dosen UIN Ar-Raniry Hendri, M.Si. Angkat Tradisi Aceh Selatan ke Ranah Nasional

- Penulis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDA ACEH | LSA-NEWS.COM – Tradisi lokal masyarakat Aceh Selatan kembali mendapat perhatian di tingkat nasional. Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hendri, M.Si., berhasil meraih pendanaan Hibah Penelitian Dana Indonesia Raya yang dikelola LPDP Tahun 2026 kategori perseorangan dengan nilai mencapai Rp150 juta.

Hibah tersebut diperoleh melalui proposal penelitian berjudul “Revitalisasi Kenduri Bungoeng Kaye sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan di Gampong Mutiara, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan.”

Penelitian ini dinilai menarik karena tidak hanya melihat Kenduri Bungoeng Kaye sebagai tradisi masyarakat semata, tetapi mengkajinya dari perspektif psikologi sosial, kebudayaan, nilai keagamaan, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam penelitian tersebut, Hendri akan mengkaji bagaimana tradisi Kenduri Bungoeng Kaye berperan dalam membentuk perilaku kolektif, norma sosial, semangat kebersamaan, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga keharmonisan lingkungan.

Tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Gampong Mutiara itu menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana kearifan lokal dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan.

Menariknya, penelitian tersebut juga dikaitkan dengan konsep Ekoteologi (Green Theology), yakni pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, tradisi masyarakat tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi kekuatan sosial dalam mendorong perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap kelestarian alam.

“Kenduri Bungoeng Kaye” dalam konteks penelitian ini menjadi ruang untuk melihat hubungan antara psikologi masyarakat, kearifan lokal, nilai keagamaan dan upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

 

Tradisi Lokal, Kajian Modern

 

Capaian Hendri sekaligus memperlihatkan bahwa kekayaan tradisi lokal Aceh Selatan memiliki ruang untuk dikaji secara akademis dan dikembangkan dalam perspektif keilmuan modern.

Dari sudut pandang psikologi sosial, tradisi yang dilakukan secara bersama-sama dapat menjadi media pembentukan identitas sosial, memperkuat solidaritas masyarakat serta mempertahankan norma dan nilai yang telah diwariskan antargenerasi.

Baca Juga:  Muara Dangkal, Dermaga Padat: Nelayan Desak Normalisasi dan Pengembangan Pelabuhan Sawang Ba'u

Di sisi lain, pendekatan ekoteologi memberikan dimensi tambahan bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi landasan moral untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai potensi tradisi lokal sebagai instrumen sosial dalam membangun masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Hendri, M.Si.

Perolehan hibah tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi para dosen Fakultas Psikologi untuk terus meningkatkan produktivitas penelitian serta melahirkan kajian-kajian yang dekat dengan persoalan sosial, budaya dan kehidupan masyarakat.

Capaian tersebut juga sejalan dengan perhatian Kementerian Agama terhadap penguatan nilai-nilai keagamaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Gagasan Ekoteologi yang terus dikembangkan Kementerian Agama menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan nilai agama dengan aksi nyata dalam menjaga alam dan membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.

Hal itu sejalan dengan visi Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam mendorong pendidikan keagamaan yang humanis, kontekstual dan berkelanjutan.

Bagi Aceh Selatan, penelitian ini memiliki arti penting. Sebab, di tengah perkembangan zaman, tradisi lokal tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan masa lalu. Tradisi juga perlu dipahami, dikaji dan direvitalisasi agar tetap memiliki makna bagi generasi mendatang.

Melalui penelitian tersebut, Kenduri Bungoeng Kaye di Gampong Mutiara, Kecamatan Sawang, diharapkan dapat memperoleh perspektif baru sebagai bagian dari kekayaan budaya Aceh Selatan sekaligus sumber nilai sosial dan ekologis yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat hari ini.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

‎Masyarakat Samadua Merasa Digiring Tolak PT BSM, Singgung Rekam Jejak Panitia
PKKMB 2026 Prodi Kesmas UTU, Semangat Kemerdekaan Warnai Penyambutan Mahasiswa Baru
RSUD Yuliddin Away Tapaktuan Layani Pemasangan Ring Jantung, Ditanggung BPJS
RSUD Yuliddin Away Tapaktuan Luncurkan Program JUMALDI, Direktur Terima Aduan Langsung dari Keluarga Pasien
BREAKING NEWS: Pohon Tumbang Picu Kemacetan Panjang di Simpang Tiga Sawang
BMK di Aceh Dorong Penguatan Tata Kelola dan Keadilan Distribusi Program Baitul Mal Aceh
11 Bulan Buron, DPO Kasus Penelantaran Anak Asal Aceh Selatan Akhirnya Ditangkap di Langkat
Bupati Mirwan Jemput Program Pusat, Aceh Selatan Resmi Terima Bantuan Excavator dari KKP
Berita ini 350 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:55 WIB

‎Masyarakat Samadua Merasa Digiring Tolak PT BSM, Singgung Rekam Jejak Panitia

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:12 WIB

PKKMB 2026 Prodi Kesmas UTU, Semangat Kemerdekaan Warnai Penyambutan Mahasiswa Baru

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:32 WIB

RSUD Yuliddin Away Tapaktuan Layani Pemasangan Ring Jantung, Ditanggung BPJS

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:30 WIB

Mengungkap Makna Kenduri Bungoeng Kaye, Dosen UIN Ar-Raniry Hendri, M.Si. Angkat Tradisi Aceh Selatan ke Ranah Nasional

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:29 WIB

BREAKING NEWS: Pohon Tumbang Picu Kemacetan Panjang di Simpang Tiga Sawang

Berita Terbaru