Oleh: Hendri, M.Si – Dosen Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Pemandangan ini mungkin tidak asing bagi kita. Satu keluarga duduk bersama di ruang tamu, tetapi masing-masing sibuk menatap layar telepon genggam. Ayah asyik bermain game, ibu larut dalam media sosial, sementara anak-anak tenggelam dalam dunia digital mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
”Mereka berada dalam satu rumah, namun seolah hidup di dunia yang berbeda”.
Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi berlangsung tanpa batas, hubungan emosional dalam keluarga justru menghadapi tantangan yang semakin besar. Kita semakin mudah terhubung dengan orang yang jauh, tetapi semakin sulit hadir sepenuhnya bagi orang-orang terdekat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat 394.608 kasus perceraian di Indonesia.
Sebagian besar dipicu oleh perselisihan dan pertengkaran yang berlangsung terus-menerus. Tentu tidak adil menyalahkan gadget sebagai penyebab utama. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan sering memperlemah komunikasi, mengurangi kualitas kebersamaan, dan memperlebar jarak emosional didalam keluarga.
Dalam perspektif psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk diterima, dicintai, dan merasa memiliki ikatan dengan orang lain. Keluarga merupakan ruang pertama dan utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di dalam keluargalah seseorang belajar tentang kasih sayang, perhatian, dan rasa aman.
Lebih dari itu, keluarga adalah sekolah pertama kehidupan. Di rumah, anak belajar berbicara, mendengarkan, menghargai orang lain, mengelola emosi, menyelesaikan konflik, serta membangun empati. Orang tua menjadi model utama yang akan ditiru anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Karena itu.
Kualitas hubungan antara orang tua dan anak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan keterampilan sosial dan kesehatan psikologis anak di masa depan.
Persoalannya, fungsi penting keluarga tersebut mulai tergerus oleh budaya digital yang tidak terkendali. Tidak sedikit orang tua yang lebih cepat merespons notifikasi telepon genggam daripada pertanyaan anaknya. Banyak keluarga yang makan bersama tanpa percakapan karena perhatian mereka tersita oleh layar masing-masing.
Psikolog Sherry Turkle menyebut fenomena ini sebagai alone together—bersama secara fisik, tetapi terpisah secara emosional. Kita hadir dalam satu ruangan, tetapi tidak benar-benar hadir bagi satu sama lain.
Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Namun lambat laun, anak dapat merasa kurang diperhatikan, pasangan merasa tidak didengarkan, dan hubungan keluarga kehilangan kehangatan yang selama ini menjadi fondasinya. Ketika interaksi digital lebih dominan daripada interaksi nyata, kesempatan untuk membangun kedekatan emosional pun semakin berkurang.
Karena itu, solusi yang diperlukan bukanlah menjauhi teknologi. Gadget bukan musuh. Yang perlu dibangun adalah kesadaran untuk menggunakan teknologi secara lebih bijaksana. Keluarga perlu memiliki ruang dan waktu yang bebas dari gangguan digital, misalnya saat makan bersama, menjelang tidur, atau pada waktu-waktu tertentu diakhir pekan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar diera digital bukanlah seberapa cepat akses internet yang kita miliki, melainkan seberapa mampu kita menjaga kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat. Sebab keluarga yang kuat tidak dibangun oleh sinyal yang kuat, melainkan oleh komunikasi yang hangat, perhatian yang tulus, dan kehadiran yang utuh.
”Mari kita renungi Kembali, apa fungsi dan tujuan kita berkeluarga, mari kita mulai dengan sesuatu yang sederhana, meletakkan gadget sejenak, mendengarkan cerita pasangan, atau menanyakan kabar anak dengan sungguh-sungguh”.
Sebab bisa jadi, yang paling dibutuhkan keluarga saat ini bukan teknologi yang lebih canggih, melainkan perhatian yang lebih manusiawi.
Catatan: Isi Opini ini merupakan hasil pemikiran kritis warga dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuli. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi dan pandangan yang disampaikan.











